SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN WASIT WICASONO

Selasa, 02 Desember 2025

IMPIANKU

Karya Renata Julia Wahyuni 


Banyak sekali mimpi dan kisah di dunia ini. Setiap orang memiliki impian yang sangat ingin mereka wujudkan. Namun, tidak semua perjalanan menuju mimpi berjalan mulus dan sesuai harapan. 

Cerita ini bermula saat aku berumur 11 tahun. Ini adalah kisah tentang bagaimana aku mulai bermain voli hingga akhirnya bisa menjadi diriku yang sekarang. Tiga tahun lalu, saat ada turnamen voli dalam rangka perayaan 17 Agustus di balai desa, aku melihat banyak pemain voli yang begitu keren. 

Saat itu, rasanya aku sangat ingin ikut bermain di dalam lapangan yang megah itu, membawa nama daerah dan orang tuaku. Setelah hari itu, aku berusaha keras membujuk orang tuaku agar mau membuatkan lapangan untukku, kakak laki-lakiku, dan ibuku, karena kami memiliki hobi yang sama. 

Akhirnya ayah mengabulkan permintaanku dan membangun lapangan di sebelah rumah. Warga sekitar ikut membantu, dan lapangan itu pun menjadi lapangan bersama. Di situlah aku memulai langkah pertamaku. Aku belajar dari nol. Saat itu aku tidak bisa apa-apa, tetapi tekadku mengalahkan rasa takutku. Semangatku untuk bisa sangat tinggi. 

Waktu membawaku bertemu dengan anak-anak klubku sekarang, Bavori. Saat itu kami sedang sparing, dan setelah melihat kemampuan mereka, ibuku memintaku untuk berlatih di sana. Awalnya aku takut, karena aku tidak mengenal siapa pun. Klub itu sangat ramai, penuh dengan orang yang sedang berlatih. Tapi ternyata mereka semua sangat baik padaku. 

 Latihan yang berat hampir membuatku menyerah. Rasanya tubuhku tidak kuat menjalani semua itu. Namun semuanya harus dipaksakan untuk meraih keberhasilan. Dulu klub kami sangat terkenal karena banyak orang berlatih di Bavori. Tetapi seiring waktu, satu per satu mulai mundur dan tidak pernah hadir lagi. 

Hingga akhirnya hanya tersisa 11 orang, lalu semakin berkurang menjadi 8 orang. Delapan orang itulah yang menjadi tim inti Bavori. Dari tahun ke tahun, hanya kami yang mampu bertahan. Kami berlatih di lapangan sederhana, tetapi penuh dengan kenangan. Hujan, panas, pagi, siang, hingga malam sudah kami lalui bersama. Walaupun alat latihan kami tidak bagus, kami tetap memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. 

Di sana aku merasakan arti pertemanan yang sesungguhnya. Teman-teman yang terasa seperti keluarga. Pelatih kami sudah seperti orang tua sendiri. Kami memiliki segalanya di tempat itu. Kami bahkan pernah dilatih oleh atlet ternama yang datang jauh-jauh dari Tasik. Waktu terus berjalan hingga akhirnya pelatih kami tidak bisa lagi membimbing kami karena ada urusan yang lebih penting. 

Lapangan mulai terbengkalai. Tidak ada lagi suara bola menggema, tidak ada tawa, tidak ada teriakan semangat. Lapangan itu seakan-akan mati, dan klub Bavori tidak lagi aktif. Saat itu aku mulai mencari cahaya baru agar tetap bisa maju. Aku menemukan klub baru, Uforia. Klub itu mengajakku berkeliling ke banyak lapangan di Rimbo Bujang, bahkan ke luar daerah. 

Aku mulai mengikuti banyak turnamen. Dulu permainanku diremehkan dan tidak dihargai. Tetapi aku tidak tumbang. Aku terus berlatih sekuat tenaga. Perlahan, episode baru dimulai. Aku sparing dan mengikuti turnamen di banyak tempat. Orang-orang mulai mengenalku, menghargai permainanku, dan ingin berkenalan denganku. Saat itu aku sadar, tidak ada yang akan menghargai seseorang yang dianggap tidak berguna. 

Aku ingat betul orang-orang yang dulu meremehkanku. Saat ini, mungkin aku belum menjadi pemain hebat. Tapi aku sudah jauh lebih baik dibanding saat aku memulai kisah ini. Dan perjalanan mimpiku… masih terus berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan pesan anda

PENGALAMAN PERTAMA MENGGUNAKAN MEDSOS

Karya Maulida Kurniawati  Dulu, waktu aku kelas 4 SD, pertama kali aku mengenal media sosial. Rasanya seperti menemukan dunia baru yang supe...