SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN WASIT WICASONO

Selasa, 02 Desember 2025

HIDUPKU

Karya Mutiara 

Manusia memiliki takdirnya masing-masing. Tidak semua orang terlahir beruntung. Ada yang hidupnya dipenuhi keberuntungan, ada yang selalu diuji, dan ada juga yang merasakan keduanya dalam waktu-waktu tertentu. Kadang aku merasa hidupku kurang beruntung, karena sejak kecil aku tidak sepenuhnya merasakan kasih sayang seorang ayah.


Aku dibesarkan oleh Ibu dan Nenek. Sejak kecil, aku sering bertanya ke mana ayahku pergi. Jawaban mereka selalu sama, “Ayah pergi kerja di tempat jauh.” Aku mempercayai itu seluruhnya. Aku benar-benar berpikir Ayah sedang bekerja untuk kami. Namun kenyataannya, beliau pergi meninggalkan kami dan mungkin tidak akan pernah kembali.


Ibu dan Nenek merawatku penuh kasih, mengajariku banyak hal yang belum aku mengerti. Mereka bekerja keras demi hidup kami. Aku bersyukur memiliki mereka, meski sesekali ada rasa kesal kecil seperti hubungan keluarga pada umumnya.


Namun setiap kali mengingat masa kecilku, rasa sedih sering muncul. Kadang aku iri melihat teman-temanku yang tumbuh dalam keluarga utuh dan harmonis. Aku juga ingin merasakan itu. Temanku pernah mengeluhkan kedua orang tuanya yang sering bertengkar. Dalam hati aku berkata, “Kamu masih lebih beruntung, kamu pernah merasakan kasih sayang ayah.” Aku tidak pernah merasakannya.


Aku tumbuh tanpa figur ayah. Terkadang sedih. Tapi aku juga sering mengingatkan diriku sendiri bahwa masih banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih berat, namun tetap bersyukur. Dari situ aku belajar menerima takdirku.


Sering kali aku bertanya-tanya, Bagaimana jika ayahku tidak pergi? Apakah hidupku akan lebih baik? Pertanyaan itu mulai muncul ketika aku memasuki SMP. Saat kecil, aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu.


Waktu kecil, aku suka bermain dengan anak-anak tetangga. Aku anak yang pemalu (bahkan sampai sekarang), tapi bermain membuatku bahagia. Bermain adalah caraku menghibur diri. Di rumah, aku sering bermain sendiri atau ditemani Ibu. Aku sering berkhayal seolah aku adalah salah satu mainan itu dan berbicara pada mainan lainnya. Ya, aku yakin banyak anak juga pernah melakukan itu.


Sampai sekarang pun aku masih suka menghibur diriku sendiri. Di sekolah, aku sering bertingkah lucu dan membuat temanku tertawa. Mendengar tawa mereka membuatku lupa akan hal-hal yang selama ini menggangguku. Mereka membuatku merasa lengkap meski ada bagian hidupku yang hilang.


Saat pertama kali masuk sekolah, aku sangat takut dan malu. Banyak orang baru yang tidak aku kenal. Ibu atau Nenek selalu mengantar aku berjalan kaki. Kadang tetangga yang berpapasan menawarkan tumpangan. Nenek sudah tua tetapi masih gigih bekerja. Ibu memiliki penyakit yang kadang kambuh, namun tetap berusaha membantu Nenek.


Walaupun tumbuh tanpa ayah, aku percaya aku bisa menjadi seseorang yang berguna di masa depan. Aku ingin mengejar cita-citaku, ingin membuat Ibu bahagia, dan membuat orang-orang di sekitarku bangga.


Hidup memang rumit, ya? Tapi untungnya, aku kecil dulu sangat kuat. Aku bangga pada diriku sendiri.


Sepertinya cerita ini cukup sampai di sini. Terima kasih sudah membaca. Mungkin kisahku sederhana, tapi itulah perjalanan hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan pesan anda

PENGALAMAN PERTAMA MENGGUNAKAN MEDSOS

Karya Maulida Kurniawati  Dulu, waktu aku kelas 4 SD, pertama kali aku mengenal media sosial. Rasanya seperti menemukan dunia baru yang supe...